Stop Makan Daging Kucing & Doggie, Mereka Bukan Hewan Ternak!

RSS
Stop Makan Daging Kucing & Doggie, Mereka Bukan Hewan Ternak!

Stop Makan Daging Kucing & Doggie, Mereka Bukan Hewan Ternak!


Awal tahun 2021, masyarakat dikejutkan oleh berita tentang rumah jagal kucing yang berada di Medan, Sumatera Barat. Berita ini tentu saja menyedot perhatian publik hingga akhirnya viral. Berbagai pihak pun melontarkan respons yang berbeda-beda. Ada yang menghujat, tapi ada juga yang tidak peduli. Tapi tahukah pet parents, kalau sebenarnya makan daging kucing itu dilarang?

Pada dasarnya manusia tidak boleh mengonsumsi daging hewan non-ternak. Hewan non-ternak adalah hewan yang tidak bisa dipelihara untuk diambil susu, daging, ataupun tenaganya. Kucing, marmut, dan doggie termasuk ke dalam hewan non-ternak.

Kebiasaan mengonsumsi daging doggie dan kucing terjadi di banyak negara. Meskipun di Indonesia belum ada berita atau informasi mengenai dampak memakan daging kedua hewan tersebut, tidak begitu halnya dengan negara lain. Di Mongolia misalnya, ada pasangan yang meninggal setelah memakan daging marmut tahun 2019 lalu. Kejadian itu sampai membuat pemerintah kota setempat memberlakukan karantina. 

Kenapa kita tak boleh mengonsumsi hewan non-ternak?

Larangan mengonsumsi daging kucing dan doggie tidak hanya digemborkan oleh para pencinta binatang. Beberapa organisasi kesehatan, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seringkali menggemakan larangan makan daging hewan peliharaan. 

Menurut WHO, makan daging doggie dapat meningkatkan risiko terkena infeksi bakteri. Tidak tanggung-tanggung pet parents, kenaikannya bisa mencapai 20 kali lipat. Banyak penelitian yang membuktikan kalau di dalam tubuh doggie terdapat parasit Trichinellosis. Parasit tersebut bisa dengan mudah menular pada manusia. Jika sudah menyerang manusia, parasit itu bisa menyebabkan peradangan pada pembuluh darah.

Selain itu, daging doggie bisa menularkan penyakit rabies lho. Seperti dilansir dari situs One Green Planet, ada sekitar 10.000 orang terkena rabies di Filipina. Biasanya rabies pada doggie dan kucing bisa dicegah dengan pemberian vaksin. Hanya saja maraknya perdagangan kedua hewan tersebut untuk dikonsumi menyulitkan berbagai pihak untuk memberikan vaksin. Inilah yang akhirnya meningkatkan risiko terkena rabies.

Hal yang sama berlaku juga pada kucing. Selain rabies, ada dua bahaya yang mengancam ketika orang makan daging kucing. Pertama, penyakit Lyme. Tanda-tanda penyakit ini adalah munculnya ruam kemerahan di kulit, lalu diikuti tubuh menggigil, demam, dan sakit kepala. Penderitanya juga bisa mengalami pembengkakan limpa. 

Kedua adalah infeksi botulisme. Clostridium botulinum merupakan bakteri dalam tubuh kucing yang jadi penyebab utama botulisme. Penyakit ini bisa membuat seseorang menderita keracunan bakteri yang sangat serius. Awalnya penderita akan mengalami sesak napas, gangguan penglihatan dan pendengaran, hingga kelumpuhan. Jika dibiarkan, botulisme bisa saja menyebabkan kematian.

Apa ada aturan resmi yang melarang?

Karena banyaknya bahaya yang mengancam nyawa dari konsumsi daging hewan non-ternak, pemerintah Indonesia mengeluarkan aturan larangan makan daging hewan non-ternak. Larangan tersebut diatur melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012.

Memang sih, tidak ada aturan yang tertulis secara eksplisit dalam undang-undang tersebut. Hanya saja undang-undang tersebut menyebutkan bahwa yang boleh dikonsumsi hanya hewan ternak dan perikanan. Itu berarti hewan-hewan non-ternak, seperti hewan peliharaan dan hewan liar, tidak boleh dikonsumsi.

Aturan larangan ini diperkuat dengan surat edaran yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Indonesia tahun 2018. Hanya saja peraturan tersebut baru mengatur larangan peredaran daging doggie. Sementara aturan bagi konsumsi daging kucing dan hewan non-ternak lainnya belum ada hingga sekarang.

Selain aturan tertulis dan imbauan, belum ada juga sanksi jelas bagi mereka yang nekat mengonsumsi daging hewan non-ternak. Sehingga celah ini seringkali dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab atas nama keuntungan yang dirasa cukup besar. Faktor bahaya yang mengancam kesehatan pun tidak diindahkan. Ironisnya di beberapa daerah, pengonsumsian daging hewan non-ternak malah jadi tradisi. 

Padahal beberapa negara di Asia sudah memberlakukan larangan ini dengan tegas. Contohnya adalah Taiwan. Taiwan jadi negara pertama yang menerapkan aturan tegas terhadap para penggemar daging doggie. Mereka mulai memberlakukan sanksi keras sejak tahun 2017. Bagi mereka yang makan, menjual, dan membunuh anjing bisa dikenakan denda sebesar 8.200 dolar atau sekitar Rp118 juta.

Di tahun 2020 Tiongkok dan India ikut mengeluarkan larangan memakan hewan non-ternak. Tiongkok sebenarnya terkenal dengan budaya mengonsumsi daging doggie. Masih banyak orang di sana yang percaya bahwa doggie memiliki kandungan protein yang tinggi dibanding hewan ternak. Namun pemerintah Kota Shenzhen mengambil kesempatan di tengah wabah COVID-19 untuk mengeluarkan larangan ini. Pemerintah Shenzen percaya bahwa doggie merupakan hewan yang paling dekat dengan manusia, sehingga membunuh dan mengonsumsi hewan tersebut merupakan perbuatan yang kejam. Bagi yang nekat melanggar aturan yang resmi diterapkan sejak 1 Mei 2020 ini, ruang tahanan pun siap menanti.

Kebijakan di Shenzhen pun diikuti India dengan dipelopori pemerintah Kota Mizoram. Padahal India merupakan salah satu negara yang awalnya memasukkan daging doggie ke dalam kategori daging layak konsumsi. Pet parents harus tahu bahwa di beberapa pasar lokal, daging ini diperjualbelikan dengan bebas. Sebut saja di Negaland, Manipur, dan di Mizoram sendiri. Tapi seiring bertambahnya pengetahuan masyarakat, akhirnya pemerintah membuat aturan tegas. Mereka menghapus daging doggie dari daftar daging layak konsumsi. Jika ada yang masih berani mengonsumsinya, pemerintah berhak menahan orang tersebut.

Meskipun Indonesia sudah memiliki aturan yang melarang konsumsi daging hewan non-ternak, aturannya masih rancu. Masih banyak celah yang bisa dimanfaatkan. Semoga pemerintah kita juga bisa segera menerapkan sanksi tegas ya.

Previous Post Next Post

  • PETKU GLOBAL INDONESIA