News

RSS
5 Fakta Unik Pencicip Makanan Hewan, Mau Coba?

5 Fakta Unik Pencicip Makanan Hewan, Mau Coba?

5 Fakta Unik Pencicip Makanan Hewan, Mau Coba?


Pet parents pasti pernah ‘kan merasa penasaran dengan rasa makanan petmu. Mungkin ada yang sampai iseng mencicipi seenak apa makanan petmu? Atau mungkin itu sudah jadi hobi? Wah, kalau begitu, pet parents mesti tahu tentang profesi pencicip makanan hewan.

Profesi yang satu ini mungkin masih terdengar asing di Indonesia. Namun di Amerika Serikat dan Eropa, profesi ini sudah sangat umum. Banyak produsen makanan hewan ternama yang memperkejakan pencicip makanan hewan, di antaranya The Honest Kitchen dan Lily Kitchen. Ternyata profesi ini cukup menarik lho.

Dari keisengan jadi profesi menjanjikan

Awalnya pencicip makanan hewan tak dianggap sebagai pekerjaan. Ia lebih dipandang sebagai keisengan para pet parents yang kepo. Namun bertambahnya produsen makanan hewan membuat persaingan semakin ketat. Semua berlomba-lomba untuk bisa menghasilkan makanan hewan yang berkualitas dan populer. Tapi tentunya, para produsen tersebut tak bisa langsung memberikan makanan yang belum teruji pada hewan peliharaan. 

Dari sinilah tercetus ide untuk memperkejakan pencicip makanan. The Honest Kitchen merupakan salah satu pelopornya. Mereka adalah perusahaan makanan hewan pertama yang produknya punya kesamaan dengan makanan manusia. Tapi mereka tetap memperhatikan kandungan gizi yang tepat untuk hewan. 

Seiring berjalannya waktu, produsen lain mulai mengikuti jejak The Honest Kitchen. Lambat laun semakin banyak permintaan untuk menggunakan jasa mereka. Pekerjaannya memang terlihat aneh dan sepele, tapi dua hal itu justru berubah jadi daya tarik tersendiri.

Saat ini profesi sebagai pencicip makanan hewan merupakan salah satu profesi yang menjanjikan. Selain gajinya yang cukup tinggi, jenjang kariernya pun jelas, mulai dari pemula hingga profesional.  Kenaikan karier pekerja tergantung pada pengalaman dan keahlian.

Tugasnya tidak hanya mencicipi makanan

Namanya memang pencicip makanan hewan, tapi pet parents harus tahu bahwa pekerjaannya tidak hanya mencicipi makanan saja. Tugas seorang pencicip makanan hewan cukup rumit dan lumayan panjang prosesnya.

Pertama, mereka dituntut untuk bisa merumuskan resep yang cocok untuk petmu. Tidak asal membuat resep, tapi mereka harus mempertimbangkan banyak hal, seperti kandungan gizi, rasa, bahan, sampai bentuk. Hewan peliharaan juga sama seperti manusia, mereka memiliki selera yang berbeda-beda, apalagi doggie dan kucing. Oleh karena itu, seorang pencicip makanan hewan harus bisa memperkirakan perbedaan selera hewan.

Belum lagi mereka juga harus meneliti dampak dari kandungan dan bahan yang digunakan. Keamanan produk dan efek samping seperti apa yang bisa timbul dari penggunaan bahannya mesti jadi pertimbangan saat bekerja.

Setelah diproduksi menjadi sampel produk, seorang pencicip makanan hewan harus mencicipinya langsung. Mereka harus mencium baunya juga lho. Di samping itu para pekerja juga wajib menguji kesegaran setiap makanan. Dengan demikian mereka memastikan setiap makanan memiliki kualitas sesuai standar yang ditetapkan. Jika sudah lulus semua proses tersebut, barulah satu produk makanan hewan bisa diproduksi massal.

Perlu memiliki keterampilan dan pengetahuan khusus

Berdasarkan tugas yang dijabarkan di atas, sudah terlihat jelas tidak semua orang bisa dengan mudah jadi pencicip makanan hewan. Seseorang yang ingin menekuni profesi ini perlu pengetahuan khusus untuk bisa bertahan dan meraih jenjang karier yang lebih baik. 

Howstuffworks menyebutkan rata-rata pencicip makanan hewan merupakan mereka yang memiliki gelar doktor. Terutama di bidang nutrisi dan gizi. Perusahaan tentu saja akan senang menggunakan jasa para pencicip makanan dengan latar belakang pendidikan seperti ini. Karena itu artinya mereka bisa lebih mudah menghasilkan produk makanan berkualitas.

Makanya di negara-negara maju profesi ini biasanya diincar para lulusan pendidikan sains, gizi, nutrisi, dan teknologi pangan. Tapi bukan berarti jurusan lain tidak bisa ikut menekuni profesi ini ya. Karena pada kenyataannya ada juga kok yang berasal dari jurusan lain. Namun mereka memiliki ketertarikan pada dunia makanan hewan. 

Dapat gaji fantastis!

Berita mengenai profesi ini sempat viral sekitar tahun 2015. Setelah beredar luas pengakuan seorang pencicip makanan hewan dari Inggris. Saat itu ia mengaku rata-rata penghasilnnya mencapai £50000 per tahun. Jika dikonversikan pada rupiah di tahun ini, bisa setara 1 miliar Rupiah.

Tidak jauh berbeda dengan Inggris, Amerika Serikat juga menerapkan gaji yang fantastis untuk profesi ini. Bagi mereka yang sudah dalam jenjang profesional bisa mendapatkan USD 75000 atau setara dengan 1,08 miliar Rupiah per tahun. 

Sementara penghasilan seorang pemula 427 juta Rupiah per tahun. Penghasilan sebesar ini sudah cukup besar, apalagi bagi pemula. Tak heran jika pendapatannya sangat menarik perhatian masyarakat luas. 

Harus punya mental kuat

Meskipun gaji yang diperoleh fantastis, tapi tidak banyak yang benar-benar menekuni profesi ini. Selain pekerjaannya memiliki tanggungjawab yang cukup besar, para pekerjanya perlu mental yang cukup kuat. Bisa pet parents bayangkan bagaimana rasanya ketika harus mencicipi makanan petmu. Belum lagi jika produk makanan tersebut memiliki bau yang tidak enak.

Yup, tidak semua produk yang mereka cicipi baik-baik saja. Terkadang mereka harus mencicipi dan mencium produk makanan yang kurang bagus kualitasnya. Tapi sesuai tuntutan pekerjaan, mereka tidak bisa mengeluh. Terlebih mereka yang ingin bekerja sebagai pencicip makanan hewan, tidak boleh merasa jijik.


Bagaimana menurut pet parents soal profesi unik ini? Tertarik juga untuk mencobanya?

  • PETKU GLOBAL INDONESIA
Stop Makan Daging Kucing & Doggie, Mereka Bukan Hewan Ternak!

Stop Makan Daging Kucing & Doggie, Mereka Bukan Hewan Ternak!

Stop Makan Daging Kucing & Doggie, Mereka Bukan Hewan Ternak!


Awal tahun 2021, masyarakat dikejutkan oleh berita tentang rumah jagal kucing yang berada di Medan, Sumatera Barat. Berita ini tentu saja menyedot perhatian publik hingga akhirnya viral. Berbagai pihak pun melontarkan respons yang berbeda-beda. Ada yang menghujat, tapi ada juga yang tidak peduli. Tapi tahukah pet parents, kalau sebenarnya makan daging kucing itu dilarang?

Pada dasarnya manusia tidak boleh mengonsumsi daging hewan non-ternak. Hewan non-ternak adalah hewan yang tidak bisa dipelihara untuk diambil susu, daging, ataupun tenaganya. Kucing, marmut, dan doggie termasuk ke dalam hewan non-ternak.

Kebiasaan mengonsumsi daging doggie dan kucing terjadi di banyak negara. Meskipun di Indonesia belum ada berita atau informasi mengenai dampak memakan daging kedua hewan tersebut, tidak begitu halnya dengan negara lain. Di Mongolia misalnya, ada pasangan yang meninggal setelah memakan daging marmut tahun 2019 lalu. Kejadian itu sampai membuat pemerintah kota setempat memberlakukan karantina. 

Kenapa kita tak boleh mengonsumsi hewan non-ternak?

Larangan mengonsumsi daging kucing dan doggie tidak hanya digemborkan oleh para pencinta binatang. Beberapa organisasi kesehatan, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seringkali menggemakan larangan makan daging hewan peliharaan. 

Menurut WHO, makan daging doggie dapat meningkatkan risiko terkena infeksi bakteri. Tidak tanggung-tanggung pet parents, kenaikannya bisa mencapai 20 kali lipat. Banyak penelitian yang membuktikan kalau di dalam tubuh doggie terdapat parasit Trichinellosis. Parasit tersebut bisa dengan mudah menular pada manusia. Jika sudah menyerang manusia, parasit itu bisa menyebabkan peradangan pada pembuluh darah.

Selain itu, daging doggie bisa menularkan penyakit rabies lho. Seperti dilansir dari situs One Green Planet, ada sekitar 10.000 orang terkena rabies di Filipina. Biasanya rabies pada doggie dan kucing bisa dicegah dengan pemberian vaksin. Hanya saja maraknya perdagangan kedua hewan tersebut untuk dikonsumi menyulitkan berbagai pihak untuk memberikan vaksin. Inilah yang akhirnya meningkatkan risiko terkena rabies.

Hal yang sama berlaku juga pada kucing. Selain rabies, ada dua bahaya yang mengancam ketika orang makan daging kucing. Pertama, penyakit Lyme. Tanda-tanda penyakit ini adalah munculnya ruam kemerahan di kulit, lalu diikuti tubuh menggigil, demam, dan sakit kepala. Penderitanya juga bisa mengalami pembengkakan limpa. 

Kedua adalah infeksi botulisme. Clostridium botulinum merupakan bakteri dalam tubuh kucing yang jadi penyebab utama botulisme. Penyakit ini bisa membuat seseorang menderita keracunan bakteri yang sangat serius. Awalnya penderita akan mengalami sesak napas, gangguan penglihatan dan pendengaran, hingga kelumpuhan. Jika dibiarkan, botulisme bisa saja menyebabkan kematian.

Apa ada aturan resmi yang melarang?

Karena banyaknya bahaya yang mengancam nyawa dari konsumsi daging hewan non-ternak, pemerintah Indonesia mengeluarkan aturan larangan makan daging hewan non-ternak. Larangan tersebut diatur melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012.

Memang sih, tidak ada aturan yang tertulis secara eksplisit dalam undang-undang tersebut. Hanya saja undang-undang tersebut menyebutkan bahwa yang boleh dikonsumsi hanya hewan ternak dan perikanan. Itu berarti hewan-hewan non-ternak, seperti hewan peliharaan dan hewan liar, tidak boleh dikonsumsi.

Aturan larangan ini diperkuat dengan surat edaran yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Indonesia tahun 2018. Hanya saja peraturan tersebut baru mengatur larangan peredaran daging doggie. Sementara aturan bagi konsumsi daging kucing dan hewan non-ternak lainnya belum ada hingga sekarang.

Selain aturan tertulis dan imbauan, belum ada juga sanksi jelas bagi mereka yang nekat mengonsumsi daging hewan non-ternak. Sehingga celah ini seringkali dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab atas nama keuntungan yang dirasa cukup besar. Faktor bahaya yang mengancam kesehatan pun tidak diindahkan. Ironisnya di beberapa daerah, pengonsumsian daging hewan non-ternak malah jadi tradisi. 

Padahal beberapa negara di Asia sudah memberlakukan larangan ini dengan tegas. Contohnya adalah Taiwan. Taiwan jadi negara pertama yang menerapkan aturan tegas terhadap para penggemar daging doggie. Mereka mulai memberlakukan sanksi keras sejak tahun 2017. Bagi mereka yang makan, menjual, dan membunuh anjing bisa dikenakan denda sebesar 8.200 dolar atau sekitar Rp118 juta.

Di tahun 2020 Tiongkok dan India ikut mengeluarkan larangan memakan hewan non-ternak. Tiongkok sebenarnya terkenal dengan budaya mengonsumsi daging doggie. Masih banyak orang di sana yang percaya bahwa doggie memiliki kandungan protein yang tinggi dibanding hewan ternak. Namun pemerintah Kota Shenzhen mengambil kesempatan di tengah wabah COVID-19 untuk mengeluarkan larangan ini. Pemerintah Shenzen percaya bahwa doggie merupakan hewan yang paling dekat dengan manusia, sehingga membunuh dan mengonsumsi hewan tersebut merupakan perbuatan yang kejam. Bagi yang nekat melanggar aturan yang resmi diterapkan sejak 1 Mei 2020 ini, ruang tahanan pun siap menanti.

Kebijakan di Shenzhen pun diikuti India dengan dipelopori pemerintah Kota Mizoram. Padahal India merupakan salah satu negara yang awalnya memasukkan daging doggie ke dalam kategori daging layak konsumsi. Pet parents harus tahu bahwa di beberapa pasar lokal, daging ini diperjualbelikan dengan bebas. Sebut saja di Negaland, Manipur, dan di Mizoram sendiri. Tapi seiring bertambahnya pengetahuan masyarakat, akhirnya pemerintah membuat aturan tegas. Mereka menghapus daging doggie dari daftar daging layak konsumsi. Jika ada yang masih berani mengonsumsinya, pemerintah berhak menahan orang tersebut.

Meskipun Indonesia sudah memiliki aturan yang melarang konsumsi daging hewan non-ternak, aturannya masih rancu. Masih banyak celah yang bisa dimanfaatkan. Semoga pemerintah kita juga bisa segera menerapkan sanksi tegas ya.

  • PETKU GLOBAL INDONESIA
Apa Saja Vaksin Yang Harus Pet Parents Berikan Ke Kucing?

Apa Saja Vaksin Yang Harus Pet Parents Berikan Ke Kucing?

Pet parents pasti pernah mendengar istilah kalau kucing punya sembilan nyawa. Tapi sebenarnya itu cuma mitos lho. Ungkapan tersebut lebih merujuk pada betapa beruntungnya kucing, karena mereka sering terhindar dari berbagai bahaya. Pada kenyataannya, kucing termasuk hewan yang rentan jika kita tidak menjaganya dengan baik.

Usia kucing memang beragam. Namun hingga saat ini, usia tertua kucing diketahui berumur 31 tahun. Kucing tersebut bernama Rubble. Rubble jadi kucing terlama yang menemani pemiliknya sebelum wafat pada Juli 2020. Pet parents juga ingin dong ditemani kucing kesayangan selama itu, iya ‘kan?

Supaya pet parents bisa terus bersama petmu, pet parents harus menjaga kesehatan petmu dengan baik. Salah satu caranya ya dengan memberikan vaksin.

Manfaat vaksinasi kucing

Vaksinasi kucing adalah proses memasukkan bakteri atau virus yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh kucing. Nantinya virus atau bakteri ini akan merangsang tubuh agar membentuk antibodi, sehingga tubuh kucing bisa terhindar dari berbagai penyakit.

Seperti dilansir dari American Veterinary Medical Association dan berbagai sumber lainnya, ada beberapa manfaat yang jadi alasan mengapa kucing harus divaksin.

Memperkuat daya tahan tubuh kucing. Pada dasarnya kucing merupakan hewan yang mudah terkena penyakit. Meskipun petmu selalu dibiarkan di dalam rumah, bisa saja mereka terkena penyakit berbahaya. Kita tidak tahu dari mana virus dan bakteri bisa menyerang, karena keduanya bisa tumbuh di mana saja.

Oleh karena itu diperlukan vaksinasi yang bisa memperkuat antibodi di dalam tubuh kucing. Antibodi inilah yang kemudian membuat daya tahan tubuh kucing bisa bertahan melawan virus serta bakteri. Pet parents harus tahu mengenai banyaknya penyakit yang bisa menyerang kucing, di antaranya rabies, diabetes, dan leukimia. Jika tak ditanggapi serius, penyakit-penyakit itu bisa membahayakan nyawa petmu.

Mencegah penularan penyakit dari kucing ke manusia. Beberapa penyakit pada kucing bisa langsung menular pada manusia. Misalnya rabies yang bisa menular pada manusia lewat gigitan. Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia tahun 2018, di dunia ada 55 ribu orang penderita rabies meninggal setiap tahunnya. Penularan penyakit seperti ini bisa dihindari dengan pemberian vaksin pada petmu.

Menghemat pengeluaran. Bagi sebagian pet parents, mungkin biaya vaksin termasuk mahal. Tapi pengeluaran untuk vaksin terhitung lebih murah jika dibandingkan dengan biaya pengobatan. Bayangkan jika petmu terkena penyakit serius akibat tidak divaksin. Tentu saja biaya yang mesti dikeluarkan pet parents akan jauh lebih besar.

Jenis-jenis vaksin kucing

Pemberian vaksin pada kucing tidak sembarangan loh. Ada sebuah organisasi yang bertugas meneliti dan mengawasi perkembangan vaksin kucing secara berkala. Organisasi tersebut bernama The Feline Vaccination Advisory yang terdiri dari ilmuwan kucing dan dokter hewan. Secara berkala mereka mengeluarkan panduan dan arahan terkait vaksinasi kucing.

Berdasarkan hasil penelitian mereka, dikeluarkanlah panduan terbaru mengenai pemberian vaksin kucing. Dari rangkumannya, kita bisa mengetahui bahwa pemberian vaksin kucing dibagi menjadi dua kelompok besar: vaksin inti dan vaksin non-inti.

Vaksin inti sangat direkomendasikan untuk petmu. Tidak peduli bagaimana kondisi dan tempat tinggal petmu, mereka sebaiknya mendapatkan vaksin jenis ini. Adapun vaksin non-inti hanya diberikan pada kucing yang sering keluar rumah atau bertemu hewan lainnya.

Secara detailnya, jenis-jenis vaksin yang sebaiknya diberikan untuk petmu yaitu:

1. Vaksin rabies

Sesuai namanya, vaksin ini diberikan supaya kucing terhindar dari penyakit rabies. Di dalam panduan terbaru The Feline Vaccination Advisory, vaksin ini sebetulnya tidak termasuk dalam vaksin inti. Hanya saja penggunaannya direkomendasikan di wilayah yang memang rentan terhadap penyakit rabies, termasuk di Indonesia ya pet parents. Beberapa negara bahkan mengeluarkan peraturan yang mewajibkan pemberian vaksin ini.

Menurut panduan American Association of Feline Practitioners, pemberian vaksin ini bisa dilakukan pada anak kucing maupun kucing dewasa, tentunya dengan dosis dan jangka waktu yang berbeda. Anak kucing boleh diberi vaksin ini jika usianya lebih dari 12 minggu. Pemberian vaksin rabies sebaiknya diulangi setiap tiga tahun sekali atau sesuai aturan di negara masing-masing.

2. Vaksin panleukopenia

Virus panleukopenia merupakan penyakit yang biasanya menyerang anak kucing. Virus ini bisa membunuh sel darah putih hingga membuat anak kucing rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu pemberian vaksin ini harus dilakukan sedini mungkin. Jika petmu sudah berumur empat minggu, mereka bisa diberikan vaksin.

3. Vaksin calicivirus

Kucing berusia enam minggu sudah bisa mendapatkan vaksin ini. Vaksin feline calicivirus (FCV) diberikan untuk mencegah petmu terkena penyakit yang cukup serius. Kucing yang terkena FVC biasanya mengalami gangguan saluran pernapasan serta peradangan gigi dan gusi. Pada beberapa kasus malah bisa mengalami kerontokan rambut, hepatitis, bahkan kematian. Makanya vaksin ini tergolong dalam jenis vaksin inti, sangat penting untuk petmu.

4. Vaksin FHV-1

Pemberian vaksin FHV-1 diperlukan supaya petmu tidak mudah terserang herpesvirus. Herpervirusmerupakan virus yang bisa menyebabkan penyakit gangguan saluran pernapasan atas pada petmu. Gejalanya mungkin agak mirip dengan calicivirus. Hanya saja dalam beberapa kasus bisa menimbulkan bisul pada mulut petmu.

Vaksin inti ini juga perlu diberikan pada petmu sedini mungkin, saat usia mereka sekitar enam minggu.

5. Vaksin klamidia

Klamidia dikenal juga dengan nama chlamydophila. Jenis vaksin ini termasuk dalam vaksin non-inti. Pemberiannya direkomendasikan bagi kucing yang tinggal dengan beberapa hewan lainnya, seperti di rumah penampungan atau toko hewan. Disarankan pemberian vaksin ini dilakukan pada kucing di bawah usia 9 bulan, karena pada rentang usia segitu kucing rentan terkena penyakit chlamydiosis.

6. Vaksin leukemia

Vaksin feline leukemia virus(FeLV) memang termasuk vaksin non-inti. Tapi American Association of Feline Practitioners menyarankan sebaiknya semua anak kucing mendapatkan vaksin ini. Anak kucing sangat rentan terkena FeLV. Apalagi, virus ini menempal pada sel-sel tubuh kucing dan bisa menular melalui air liur ketika mereka saling menjilat.

FeLV sendiri merupakan virus yang tergabung dengan kelompok virus sejenis HIV. Hanya saja FeLV tidak bisa menular pada manusia. Kucing yang mengalami leukemia bisa mengalami penurunan imun tubuh dan mengalami infeksi.

7. Vaksin bordetella

Ketika membawa petmu grooming, pet parents mungkin sering ditanya apakah petmu sudah divaksin atau belum. Salah satu vaksin yang bermanfaat bagi kucing yang sering dibawa ke salon adalah vaksin bordetella.

Salon merupakan tempat di mana banyak hewan berkumpul. Kita tidak tahu bagaimana kondisi kesehatan setiap hewan yang datang. Mungkin di antaranya ada yang membawa virus. Nah, vaksin bordetella setidaknya bisa mencegah petmu menderita penyakit parah yang dapat ditularkan hewan lain.

Supaya bisa menjaga kesehatan petmu secara maksimal, sebaiknya pet parents melakukan konsultasi dengan dokter hewan sebelum melakukan vaksinasi. Karena meskipun mereka sudah cukup umur, terkadang ada beberapa kondisi yang menyebabkan petmu belum bisa divaksin.

  • PETKU GLOBAL INDONESIA
Teman Terbaik Anak-Anak adalah Hewan Peliharaan, bukan Adik/Kakak Mereka

Teman Terbaik Anak-Anak adalah Hewan Peliharaan, bukan Adik/Kakak Mereka

Menurut penelitian terbaru dari Universitas Cambridge, kesenangan yang didapat anak-anak lebih tinggi saat berhubungan dengan binatang peliharaan mereka dibanding dengan saudara laki-laki atau perempuan mereka.

quotes

Fakta bahwa peliharaan tidak bisa mengerti atau berbicara langsung bisa menjadi keuntungan tersendiri karena itu berarti mereka tidak akan menghakimi"

-Matt Cassels-

Penelitian menambahkan bukti bahwa hewan peliharaan di rumah memiliki tingkat pengaruh yang tinggi untuk perkembangan anak dan juga memiliki efek positif untuk kemampuan interaksi sosial dan kecerdasan emosional.

Di keluarga yang berada di negara barat, sudah hampir menjadi hal yang umum jika binatang peliharaan dianggap layaknya saudara sendiri meskipun masih sedikit riset/penelitian yang membahas tentang pentingnya hubungan anak dan peliharaan.

‘‘Mereka yang memiliki binatang peliharaan kesayangan saat masih anak-anak mengetahui bahwa mereka berinteraksi dengan hewan peliharaan adalah untuk membangun persahabatan dan mengungkapkan perasaan, sama seperti hubungan antar manusia,” ungkap Matt Cassels, Profesor di Gates Cambridge, Departemen Psikatri, yang memimpin studi tersebut. “Kami ingin mengetahui seberapa kuat hubungan dengan binatang peliharaan ini dibanding dengan anggota keluarga lainnya. Yang pada akhirnya, mungkin hal ini juga dapat membantu kita mengetahui bagaimana kontribusi hewan peliharaan untuk perkembangan kesehatan anak-anak”.

Riset yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Developmental Psychology ini, dilaksanakan dengan kolaborasi antara the WALTHAM Centre untuk Pet Nutrition, bagian dari Mars Petcare dan didanai bersama oleh Economic and Social Research Council sebagai bagian riset yang lebih besar, dan dipimpin oleh Profesor Claire Hughes di Universitas Cambridge Center untuk Family Research. Para peneliti melakukan survei pada anak-anak berumur 12 tahun dari 77 keluarga yang memiliki satu atau lebih hewan peliharaan di rumah mereka. Anak-anak menunjukan hubungan yang kuat dengan hewan peliharaan dibanding dengan saudara mereka, selain itu level konflik mereka juga lebih rendah dan kesenangan interaksi yang didapat juga terlihat lebih baik pada anak-anak yang memiliki anjing sebagai hewan peliharaan mereka dibanding anak-anak yang memiliki hewan peliharaan lainnya.

‘Meskipun hewan peliharaan tidak sepenuhnya mengerti atau merespon secara verbal, level hewan peliharaan dalam mengungkapkan perasaan tidak lebih rendah dari saudara-saudara pemilik hewan peliharaan ini,” ujar Cassels. “Fakta bahwa peliharaan tidak bisa mengerti atau berbicara langsung bisa menjadi keuntungan tersendiri karena itu berarti mereka tidak akan menghakimi.

Sementara penelitian sebelumnya sering menemukan bahwa anak laki-laki menunjukan hubungan yang lebih kuat dengan hewan peliharaan mereka daripada anak perempuan, kami justru menemukan yang sebaliknya. Saat anak laki-laki dan perempuan sama-sama senang berinteraksi dengan hewan peliharaan mereka, anak perempuan menunjukan lebih banyak perasaan yang dapat diungkapkan, rasa persahabatan, dan konflik dengan hewan peliharaan mereka daripada anak laki-laki, hal ini mungkin menunjukkan bahwa anak perempuan dapat berinteraksi dengan hewan peliharaan mereka dengan cara yang lebih beragam.

Bukti lainnya juga menunjukan bahwa hewan peliharaan memiliki keuntungan yang positif pada kesehatan manusia dan kebersamaan dalam komunitas,” ujar Dr Nancy Gee, Manajer Penelitian Interaksi Manusia-Hewan di WALTHAM dan salah satu penulis studi ini. “Dukungan sosial yang diterima para remaja dari hewan peliharaan dapat mendukung kebahagiaan psikologis di masa depan, tetapi tetap masih banyak yang harus dipelajari tentang dampak jangka panjang hewan peliharaan terhadap perkembangan anak-anak.

  • Data Admin